Indikator
  • Undercontruction

Ternyata Tradisi "Ukuwala Mahiate" Berasal dari Tiang Masjid

Home / Peristiwa - Nasional / Ternyata Tradisi "Ukuwala Mahiate" Berasal dari Tiang Masjid
Ternyata Tradisi Tradisi Ukuwala Mahiate. (Foto: SHNet)

TIMESBANYUWANGI, JAKARTA – Kalau Anda mudik Lebaran ke Maluku Tengah, sempatkan Anda untuk menonton tradisi "Ukuwala Mahiate" atau "Baku Pukul Manyapu" yang hanya dilakukan setiap tahun sekali ini. Tepatnya Setiap 7 Syawal.

Kata ukuwala diambil dari bahasa Mamala yang artinya sapu lidi sedangkan Mahiate artinya baku pukul. Jadi arti dari "ukuwala mahiate" adalah "baku pukul manyapu".

Tradisi "Baku Pukul Manyapu" ini sejak abad ke-16 sudah dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di Desa Mamala dan Desa Morella, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Menurut tradisi lisan di daerah tersebut, tradisi ini adalah cara ungkapan masyarakat setempat atas keberhasilan nenek moyangnya untuk mendirikan sebuah mesjid di desa tersebut.

Lalu apa hubungan atraksi saling pukul itu dengan pendirian sebuah masjid?

Ada banyak versi soal sejarah tradisi ini. Namun, secara umum bisa diceritakan seperti ini. Dulu, melalui sebuah peperangan sekitar abad ke XVI, VOC berhasil mengusir leluhur desa Mamala dari gunung. Leluhur  yang meninggalkan desa tersebut akhirnya sampai pada sebuah tempat di tepi pantai yang sekarang disebut Mamala.

Di tempat tersebut, tetua leluhur yang terdiri dari Latu Liu sebagai pimpinan pemerintahan adat Mamala; Patti Tiang Bessy/Patti Tembessi sebagai pemimpin pembangunan mesjid; dan Imam Tuny sebagai imam masjid sepakat untuk mendirikan sebuah mesjid.

Akhirnya, rakyat beserta tetua adat bergotong royong membangun mesjid. MUlailah mereka mencari kayu dan menebang kayu dari hutan di sekitar daerah tersebut. Kayu dengan ukuran besar dan berat diangkut dan dipikul bersama ke lokasi masjid. Kayu tersebut mereka olah untuk dijadikan bahan dasar bangunan mesjid.

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com