Indikator
  • Undercontruction

Tradisi Mudik, Sebuah Renungan Kecil

Home / Peristiwa - Daerah / Tradisi Mudik, Sebuah Renungan Kecil
Tradisi Mudik, Sebuah Renungan Kecil ILUSTRASI: Mudik. (Foto: Dok. TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, JAKARTA – Tren jumlah orang meninggal akibat kecelakaan saat mudik rata-rata ratusan orang. Itu belum dihitung korban yang dirawat di rumah sakit dan di rumah.

Soal tren jumlah orang yang meninggal, data menunjukkan angka naik dari tahun ke tahun. Diperkirakan kerugian material mencapai lebih dari Rp5 triliun.

Itu adalah salah satu contoh paling ekstrim sebuah "pengorbanan" dari tradisi dan ritual "wajib" umat Islam di Indonesia: Tradisi Mudik.

Ada juga bentuk pengorbanan lain yang sangat tidak "masuk akal" namun jadi masuk akal ketika seseorang melakukan ritual Tradisi Mudik. Contohnya, saat kita memaksakan diri kredit mobil baru meski gaji bulanannya tidak cukup menjelang mudik ke kampung. Itu dilakukan semata agar kerabatnya di kampung tidak lagi memandang rendah. Atau ingin dianggap sukses.    

Yang lebih mengiris hati, kita terpaksa harus berbuat jahat, korupsi, mencuri, merampok bahkan membunuh, hanya karena harus dapat uang atau fasilitas lebih agar kita dan keluarga bisa ikut ritual "wajib" Tradisi Mudik.

Begitu besar dan beragam “pengorbanan” yang harus disiapkan dan dilakukan seseorang yang ingin melakukan ritual Tradisi Mudik sehingga rela dan siap mengorbankan harta, nyawa, harga diri bahkan nilai-nilai kemanusiaannya.

Ada sebuah pertanyaan yang bisa mengusik kita sebenarnya.

Apakah hanya karena ritual "wajib" Tradisi Mudik kita harus mengorbankan juga sisi kemanusiaan kita juga?

Atau, apakah semangat "pengorbanan" ketika mudik ke kampung sama dengan semangat ketika kita bersiap mudik ke akhirat atau meninggalkan dunia fana ini?

Mari kita renungkan lagi hal kecil ini

Mudah-mudahan kita selalu siap berkorban untuk ritual mudik ke akhirat juga. Setiap hari...

Selamat Mudik. (*)

Berita Terkait

Komentar

Top
Tim.my.id Wawanita.com satriamedia.com