Suhu Udara di Banyuwangi Terasa Lebih Dingin, ini Penyebabnya

Home / Berita / Suhu Udara di Banyuwangi Terasa Lebih Dingin, ini Penyebabnya
Suhu Udara di Banyuwangi Terasa Lebih Dingin, ini Penyebabnya Ilustrasi suhu dingin. (Foto: Halodoc.com)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Beberapa hari terakhir suhu udara di Banyuwangi, Jawa Timur, terasa lebih dingin dari biasanya. Terutama diwaktu malam hingga pagi hari.

Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, Yustoto Windiarto mengatakan fenomena tersebut disebabkan karena adanya pengaruh dan pertumbuhan awan yang sedikit.

"Sehingga panas yang diterima oleh bumi dari pagi hingga sore akan terlepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari dengan intensitas yang lebih banyak," ungkap Yustoto, Minggu (2/8/2020).

"Karena tidak terhalang oleh awan sehingga penurunan suhu udara pun drastis yang berakibat suhu lebih dingin, namun kering," tambah Yustoto.

Selain itu, lanjutnya, penyebab lain karena angin Monsun dari Australia yang bertiup kuat sehingga berakibat menambah dingin suhu udara di Banyuwangi.

"Bahkan kuatnya Monsun Australia selain menambah dinginnya suhu udara juga menambah kecepatan angin yang juga berdampak terhadap tingginya gelombang laut di selatan Jawa termasuk perairan selatan Banyuwangi," ujar Yustoto.

Lebih lanjut, Yustoto menjelaskan, untuk wilayah Banyuwangi masih memasuki kemarau basah. Artinya masih terjadi hujan meskipun jumlah dan keseringan hujan cenderung menurun serta tidak merata.

Tetapi, BMKG Banyuwangi mewanti bahwa potensi kekeringan di wilayah Banyuwangi masih tetap ada. Yaitu terdapat di Wongsorejo.

BMKG menyampaikan saat ini kecepatan angin terutama di bagian selatan Jawa dan Bali dilaporkan menunjukkan kecepatan angin yang lebih kuat (Lombok, Denpasar, Solo, Jogja, Bandung: 10 - 20 knot; Jakarta, Semarang, Surabaya: 5 - 10 knot, dengan 1 knot ~ 0.5 m/s).

Sejumlah kota di bagian selatan Jawa dan Bali juga menunjukkan suhu udara yang relatif lebih dingin sedikit dibanding bagian utara, misalnya pada siang hari Lombok, Denpasar suhu 26- 28°C, saat yang sama di Semarang, Jakarta, Surabaya 30-31°C.

Sedangkan pada malam hingga pagi hari, suhu minimum tercatat pada 29 Juli terendah 10,4°C di Ruteng, NTT, di Malang dan Bandung 17°C, di Padang Panjang 18°C.

Bulan Agustus merupakan bulan yang diprediksikan oleh BMKG sebagai puncak musim kemarau bagi sebagian besar wilayah yang telah mengalami kemarau. Sebanyak 65% ZOM akan mengalami puncak musim kemarau ini. Yaitu sebagian besar wilayah NTT, NTB, Bali, sebagian besar Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, dan sebagian Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi Selatan serta Papua bagian selatan.

Sementara 19% ZOM diprediksikan mengalami puncak musim kemarau pada bulan September, yaitu meliputi sebagian besar Sumatera bagian tengah, Kalimantan bagian selatan, tengah dan timur, Sulawesi bagian barat dan Maluku.

"Puncak musim kemarau didefinisikan sebagai bulan atau periode waktu terkering dimana curah hujan yang turun di wilayah yang sedang mengalami kemarau berada pada tingkat paling rendah atau minimum," papar Yustoto.

Terkait dengan perubahan suhu udara di Banyuwangi, BMKG mengimbau agar pemerintah daerah, pengambil keputusan dan masyarakat luas untuk lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak puncak musim kemarau terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, dan ketersediaan air bersih. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com