Dr Aqua Dwipayana Beri Tips Sukses Ekspedisi Destana Tsunami BNPB 

Home / Berita / Dr Aqua Dwipayana Beri Tips Sukses Ekspedisi Destana Tsunami BNPB 
Dr Aqua Dwipayana Beri Tips Sukses Ekspedisi Destana Tsunami BNPB  Aqua Dwipayana bersama anggota BNPB di Pantai Boom Banyuwangi. (foto: TIMES indonesia network)

TIMESBANYUWANGI, JAKARTA – Pakar Komunikasi Dr Aqua Dwipayana menegaskan bahwa kunci sukses Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami yang dilaksanakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tergantung pada penguasaan komunikasi dan data yang dimiliki seluruh anggota Tim. 

Menurutnya, semakin bagus komunikasinya dan makin lengkap data yang dipunyai maka tingkat keberhasilan ekspedisi ini tambah besar.

Aqua menegaskan hal itu Jumat malam, 12 Juli 2019 di Pantai Boom Banyuwangi di depan ratusan anggota Tim Destana Tsunami yang berasal dari seluruh daerah tingkat II di Jawa Timur. Sebelumnya pada sorenya Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo membuka kegiatan tersebut di tempat yang sama. 

Banyak pejabat dari BNPB yang hadir di acara itu. Di antaranya Sestama Dody Ruswandi, 2 Deputi Harmensyah, Bernardus Wisnu Widjaja, Tenaga Ahli Egy Massadiah, Brigjen Pol Purn Hasanuddin, dan Marsda TNI Purn Bonar H. Hutagaol.

Aqua menambahkan sebelum datang ke desa-desa dan kelurahan-kelurahan sebaiknya Tim lebih dulu mempelajari secara detil karakteristik daerah tersebut termasuk tokoh-tokohnya. Itu sangat penting untuk memudahkan tugas-tugas Tim dan agar sukses.

Dr-Aqua-Dwipayana-b.jpg

"Meski sama-sama di satu provinsi, bisa saja karakteristik wilayah dan warga desa atau kelurahannya berbeda-beda. Sehingga pendekatannya juga tidak boleh sama. Jadi harus spesifik," tegas motivator internasional yang telah memotivasi ratusan ribu orang ini.

Selain itu, lanjut Dr Aqua, di setiap desa dan kelurahan tidak selalu yang berperan pemimpin formal. Ada di sejumlah daerah yang warganya lebih mendengarkan pemimpin informal seperti ulama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan lainnya.

Laksanakan Komunikasi REACH
Semua info yang dibutuhkan tersebut menurut Bapak dua anak yang jadwal sharingnya padat sekali, bisa diperoleh secara detil dan akurat dengan memiliki kemampuan komunikasi yang bagus. Sehingga di mana saja, kapan saja, dan ketemu siapa saja komunikasinya nyambung.

Tidak kalah pentingnya, tambah Aqua, yang sangat akrab dengan Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo, hati dan pikiran seluruh anggota Tim harus bersih. Jangan sekali-kali mengedepankan kecurigaan saat ketemu orang baru di desa-desa dan kelurahan-kelurahan yang dikunjungi.

"Tutur kata dan perilaku seseorang saat berkomunikasi sama orang lain sangat bisa dirasakan oleh lawan bicaranya. Jika hati dan pikirannya bersih bakal tercermin dari bahasa verbal dan nonverbalnya. Untuk itu selalulah jaga hati dan pikiran masing-masing," tegas Dr Aqua.

Terkait dengan komunikasi, mantan wartawan di banyak media ini menyarankan ke semua Tim untuk melaksanakan Lima Hukum Komunikasi yang Efektif. Di setiap sharingnya doktor dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung ini sering mengungkapkan itu. 

Mereka yang konsisten melaksanakan Lima Hukum Komunikasi yang Efektif dalam aktivitas sehari-hari biasanya sukses di kehidupannya. Mereka telah merasakan hasilnya yang dahsyat dan luar biasa.

Lima Hukum Komunikasi yang Efektif tersebut disingkat REACH. Intinya dengan melaksanakan itu maka dapat memperoleh semua yang diinginkan dari lawan bicara. Umpan balik atau _feedback_nya sesuai dengan yang diinginkan.

Pertama adalah Respect. Ketemu siapa saja, dalam kondisi apapun, dan di mana saja, harus menghormati orang lain tanpa melihat suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Perilakunya jangan mengalahkan TUHAN yang hormat pada semua makhluk ciptaannya termasuk manusia.

Kedua adalah Empathy. Secara optimal berusaha agar dapat merasakan apa saja yang dirasakan orang lain terutama pada hal-hal yang membutuhkan perhatian orang lain. Misalnya atasan yang menunjukkan empathy pada kinerja bawahannya.

Ketiga adalah Audible. Di manapun berada harus menyesuaikan sehingga keberadaannya selalu diterima lingkungan. Ini seperti nasihat yang sering didengarkan yaitu di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. 

Keempat adalah Clarity. Saat berkomunikasi dengan semua orang gunakanlah kalimat yang sederhana agar mudah dimengerti. Tidak usah ngomong yang rumit-rumit yang membuat komunikasinya jadi tidak efektif.

Kelima adalah Humble. Setiap manusia adalah ciptaan TUHAN sehingg tidak ada yang perlu disombongkan. Untuk itu secara optimal agar selalu berusaha jadi orang yang rendah hati sehingga di manapun berada diterima lingkungan.

"Saya menilai Lima Hukum Komunikasi yang Efektif itu ada pada Pak Doni Monardo. Untuk itu jadikanlah beliau sebagai role model dalam Komunikasi. Tidak usah jauh-jauh mencarinya di luar BNPB," ujar Dr Aqua.

Para pesertanya antusias. Apalagi Dr Aqua memberi hadiah uang Rp 250 ribu kepada orang yang bisa menjawab pertanyaan dia dan Rp 100 ribu ke setiap yang bertanya. Selain itu panitia juga memberi hadiah bola.

Paling Penting Implementasi, Tidak Usah Banyak Teori

Sebelumnya dalam sambutannya saat membuka kegiatan Ekspedisi Destana Tsunama Doni menekankan kepada semua Tim agar saat di lapangan tidak usah terlalu banyak teori. Paling penting adalah implementasinya.

"Berkomunikasilah secara intensif dengan semua orang yang ditemui. Simak yang mereka sampaikan dan beri masukan terkait dengan potensi bencana tsunami di daerah mereka. Dengan begitu mereka selalu waspada, mawas diri, dan hati-hati," tegas Doni.

Sedangkan Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB yang juga Ketua Panitia Ekspedisi Destana Tsunami Lilik Kurniawan menjelaskan dari 5.744 desa atau kelurahan di Indonesia yang rawan tsunami (kelas rawan sedang dan tinggi), 584 desa atau kelurahan di antaranya ada di Selatan Pulau Jawa.

BNPB berusaha menjadikan semua desa atau kelurahan itu jadi tangguh bencana sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI 8357:2017). Sehingga penting mengajak Badan Standarisasi Nasional Indonesia untuk memastikan pelaksanaan SNI tersebut.

Kegiatan ini, lanjut Lilik, berlangsung selama 34 hari mulai 12 Juli 2019 sampai 17 Agustus 2019. Dimulai dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, ke barat sampai dengan Kabupaten Serang, Banten.

"Ekspedisi ini terbagi menjadi empat segmen yakni Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Banten. Setiap segmen diikuti 200 peserta yang terdiri dari 80 orang dari pusat dan 120 orang dari daerah. Semua peserta menginap di tenda dan berbaur dengan masyarakat," jelas Lilik saat bersama Dr Aqua Dwipayana. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com