Memaknai Jasmerah: Dari Tutur Tinular ke Tutur Tinulis

Home / Kopi TIMES / Memaknai Jasmerah: Dari Tutur Tinular ke Tutur Tinulis
Memaknai Jasmerah: Dari Tutur Tinular ke Tutur Tinulis Farhan, M.Sos.I; Dosen UNUJA dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah

TIMESBANYUWANGI, MALANGINSINYUR soekarno pernah mengatakan 'jasmerah'. Kependekan dari 'jangan sekali kali meninggalkan sejarah". Pidato proklamator itu disampaikan pada HUT 17 Agustus 1966.

Pendapat Prof. Mahfud MD, bahwa jasmerah Bung Karno ini sejalan dengan kandungan al-Quran. Bahwa Allah menyuruh kita untuk melihat sejarah manusia masa lalu sebagai pelajaran untuk langkah ke depan (nasional.sindonews.com, 21 Juli 2015).

Sejarah seperti apakah yang perlu diingat? Bagaimana kita mengisi kemerdekaan?

Setiap kita memiliki sejarah hidup. Setidaknya dalam sehari semalam kita telah melakukan aktivitas yang menjadi sejarah bagi diri pribadi. Sejarah itu bisa dituturtinularkan kepada anak, putu, buyut, canggah, wareng, udhek-udhek, gantung siwur dan sterusnya. Sebagaimana tuturtinular tentang kehidupan para pahlawan bangsa yang telah gugur mendahului kita.

Pada HUT ke-74 tahun usia bangsa ini, kita mengenang jasa para pahlawan. Sejarah panjang pengorbanan pahlawan dengan segenap jiwa-raga. Jiwa sang pemberani nan suci simbol Merah Putih, berkibar mengiringi langkah kaki gagah perkasa.

Tiada lain untuk memperjuangkan dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti diungkapkan mbah Liem pencetus ‘NKRI Harga Mati’ (nu.or.id, 12 Mei 2017).

Penulis ingin membawa ‘jasmerah’ ini sebagai penguatan dasar dan pondasi kita, generasi penerus pengisi kemerdekaan. Mengisi kemerdekaan dengan 'semangat belajar, belajar dan belajar'; mencintai, memahami, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, mengintegrasikan agama dan sain dalam setiap sendi kehidupan.

Kita bisa mengukur kompetensi dan kapabilitas semua anak cucu cicit pembela tanah air ini secara proporsional. Apakah benar terus menjaga ‘NKRI Harga Mati’?

Generasi muda saat ini bisa saja meneriakkan kata 'Merdeka, Merdeka, Merdeka!'  kapanpun mau. Akan tetapi, hal itu penulis anggap belum cukup. Lebih dari itu, generasi muda harus berani berkomitmen membudayakan tutur tinular diiringi dengan tutur tinulis.

Budaya tinular ke tinulis memang tidak semudah membalikkan kedua belah tangan. Kebiasaan ini harus diteladankan pula oleh generasi tua. Menuliskan sejarah ‘pahlawan masa kini’ yang meneladankan jiwa penuh tanggungjawab dan keikhlasan dalam mengabdikan diri. Bisa petani, guru, dosen, nelayan, pedagang, tokoh agama dan seterusnya.

Jika, keikhlasan mengabdikan diri kepada bangsa dan negara menjadi bagian dalam hidupnya, maka layak untuk tulis sebagai teladan sejarah. Tulisan-tulisan itu, akan dikenang oleh generasi masa depan.

Membiasakan menulis bagi penuntut ilmu merupakan keniscayaan.

Keterampilan bertuturkata dan menulis sebaiknya diseimbangkan. jikalau ada 11 orang sivitas akademik di perguruan tinggi (PT) yang intens menekuni penulisan sejarah, maka 11 karya tulis itu patut diapresiasi.

Di sinilah penulis sangat setuju kalau mahasiswa melakukan ‘One day one Story’; satu hari satu cerita yang di tutur bisa ditulis.

Bila tradisi tutur tinular dilanjutkan dengan tradisi tinulis dilakukan sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah yang resmi dan disimpan rapi di perpustakaan sekolah, perpustakaan desa, perpustakaan masjid, dan seterusnya, maka akan tercipta generasi-generasi cinta literasi atau disingkat Gecili. 

Usia muda jangan foya-foya, agar tidak menyesal di masa tua. Para pemuda kokohkanlah cinta tanah air ‘NKRI Harga Mati’ dengan mempelajari sejarah lalu menulisnya dengan baik. Tutur tinulis menurut penulis merupakan pengejewantahan dari 'Hubbul wathon minal iman'. Pemuda harapan nenek moyang selalu cinta tanah air; selalu Belajar, Berjuang serta Bertakwa. 

Mari jadi pemuda Gecili: Membaca, Memahami, Menulis, Mempublikasi dan Mengabdi!

* Penulis adalah Farhan, M.Sos.I; Dosen UNUJA dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Tags:

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com