Delapan Kali Ikuti Gandrung Sewu, Sang Penari Katakan Cinta Budaya Banyuwangi

Home / Wisata / Delapan Kali Ikuti Gandrung Sewu, Sang Penari Katakan Cinta Budaya Banyuwangi
Delapan Kali Ikuti Gandrung Sewu, Sang Penari Katakan Cinta Budaya Banyuwangi Asmaul Husnah, Salah satu penari di Festival Gandrung Sewu 2019 (Foto : Roghib Mabrur/TIMES Indonesia)

TIMESBANYUWANGI, BANYUWANGI – Pelaksanaan Festival Gandrung Sewu 2019 membius mata para penonton, tak berlebihan memang, lebih dari seribu penari tampil membentuk formasi apik berlatar belakang Selat Bali yang eksotis. Dominasi kostum merah, Gandrung Sewu setia diadakan di Pantai Marina Boom, Banyuwangi. Ribuan penari pun kompak menunjukkan kemegahan budaya yang dimiliki oleh Bumi Gandrung tersebut.

Salah satu penari bernama Asmaul Husna (18) siswi SMK NU Rogojampi mengungkapkan ketertarikan pada sendratari gandrung sejak usianya belia.

Gandrung-Sewu-2.jpg

"Gak tau yah mas...pokoknya seneng aja, saya suka seni tari dan Budaya Banyuwangi, mulai SD saya sudah menari Gandrung," kata Asmaul sambil mata berbinar, Sabtu, (12/10/2019).

Asmaul menyatakan bahwa sedari belia ia sudah mengenal tari Gandrung dan ia memang dilahirkan di lingkungan penari, karena keluarganya juga gemar menari seni dan kebudayaan khas Banyuwangi.

"Mulai ada Gandrung Sewu saya ikut, Alhamdulillahnya saya selalu lolos, karena saya sudah terbiasa dengan gerakan tari Gandrung. Dua kakak saya penari, keluarga saya juga penari," jelas Asmaul remaja putri asal desa Aliyan, kecamatan Rogojampi.

Gandrung-Sewu-3.jpg

Festival Gandrung Sewu kali ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, lantaran 60 persen adalah penari baru, dengan mengusung tema "Panji-Panji Sunangkoro" lebih dari 1.400 penari menceritakan perjuangan heroik rakyat bumi Blambangan melawan kolonial Belanda, yang saat itu dipimpin oleh Pangeran Rempeg Jagapati.

Fragmen musik baru, hingga sebagian besar penari, penyanyi dan penabuh adalah generasi milenial, artinya proses regenerasi pelestarian budaya terlaksana dengan amat baik.

Selama lebih kurang 1 Jam 30 menit tampil menawan, Asmaul dan ribuan penari lainnya sangat menghayati gerakan tari yang memiliki koreografi yang beragam.

Gandrung-Sewu-4.jpg

"Kan temanya tiap tahun beda-beda, semuanya itu bagus, cuman kesulitan ngatur posisinya, kan penarinya banyak, jadi lumayan membutuhkan kekompakan yang tinggi," imbuh Asmaul.

Asmaul sendiri ikut menari di sanggar Sayuwiwit Aliyan, ia saat ini berada di kelas XII SMK NU Rogojampi dan usai lulus nanti, ia bercita-cita ingin menekuni seni tari Banyuwangi dengan menjadi seorang pelatih profesional tari Gandrung.

"Setelah lulus nanti, saya ingin gabung di Gandrung Sewu, saya ingin menjadi pelatih tari Gandrung, Ini kan budaya leluhur saya, jadi saya rela melakukan ini, demi kelestarian budaya kami," pungkas Asmaul sambil tersenyum. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com